ragnaroratmangoen – Suara drone sudah bukan sesuatu yang asing bagi warga Ukraina.
Setelah lebih dari empat tahun perang skala penuh, dengungan Shahed di malam hari, alarm serangan udara, ledakan pertahanan udara, hingga suara drone FPV di dekat garis depan sudah menjadi bagian mengerikan dari konflik yang seolah tidak menemukan tombol berhenti.
Namun pada pertengahan 2026, muncul sesuatu yang sedikit berbeda.
Bayangkan sebuah drone terbang menuju kota. Tidak ada pilot yang duduk di belakang layar sambil mengarahkannya. Tidak ada operator yang harus terus mempertahankan koneksi radio. Bahkan dalam konfigurasi tertentu, tidak ada modem komunikasi yang diperlukan untuk memberi perintah kepada drone selama penerbangan.
Drone tersebut membawa komputer kecil.
Kamera menjadi matanya.
Artificial intelligence atau AI menjadi bagian dari otaknya.
Lalu algoritma di dalamnya membantu drone mengenali apa yang berada di bawah, mencari sasaran dan mengarahkan serangan.
Skenario seperti film sci-fi itu kini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium.
Pada Agustus 2026, pejabat dan pakar militer Ukraina mengatakan Rusia telah melakukan penggunaan terbatas drone serang fixed-wing yang mampu beroperasi secara otonom. Salah satu kasus yang paling banyak mendapat perhatian adalah serangan terhadap sebuah pom bensin di Zaporizhzhia pada 6 Juli 2026. Analisis terhadap puing drone mengindikasikan penggunaan komputer Nvidia Jetson Orin dan teknologi computer vision untuk membantu sistem tersebut memilih serta menghantam sasaran tanpa pengendalian manusia secara langsung.
Buat perang Rusia-Ukraina, ini bukan sekadar munculnya drone baru.
Ini adalah pertanda bahwa perang drone sedang memasuki fase ketika manusia perlahan bisa dikeluarkan dari sebagian proses antara “mencari” dan “menyerang”.
Dan justru di situlah bagian yang mengerikan dimulai.
Drone AI Rusia Mulai Muncul di Ukraina
Perkembangan terbaru mendapatkan perhatian luas setelah laporan pada 24 Agustus 2026 mengungkap bahwa pemeriksa forensik Ukraina menemukan komputer mini Nvidia Jetson Orin pada puing drone Rusia.
Komputer tersebut pada dasarnya bukan teknologi yang sejak awal dibuat khusus untuk peperangan.
Jetson merupakan platform komputasi yang digunakan untuk aplikasi AI, robotika dan machine vision.
Namun dalam perang, teknologi sipil dan dual-use sering mendapatkan pekerjaan baru.
Menurut laporan The New York Times yang mengutip pejabat Ukraina, komputer tersebut ditemukan pada drone otonom yang diuji Rusia dalam serangan di Zaporizhzhia. Sistem itu disebut menggunakan teknologi AI untuk membantu drone mengidentifikasi dan menyerang target.
Institute for the Study of War atau ISW kemudian menyoroti perkembangan tersebut dalam laporan 25 Agustus.
Menurut ISW, pasukan Rusia mulai melakukan deployment terbatas terhadap drone serang fixed-wing yang sepenuhnya otonom. Para ahli Ukraina menyebut sebuah drone tipe Molniya yang dipandu AI menghantam pom bensin di Zaporizhzhia pada 6 Juli.
Kalau sistem tersebut bekerja sebagaimana yang dijelaskan para pemeriksa Ukraina, konsekuensinya cukup besar.
Sebab selama ini salah satu pertahanan paling efektif menghadapi drone adalah memutus hubungannya dengan manusia.
Sekarang Rusia mencoba membuat hubungan itu tidak lagi diperlukan.
Bagaimana Drone Biasanya Dikendalikan?
Untuk memahami kenapa drone AI menjadi masalah besar, kita perlu mundur sedikit.
Drone FPV tradisional membutuhkan hubungan antara drone dan operator.
Pilot melihat gambar dari kamera drone melalui video feed, kemudian mengarahkan drone menuju target.
Masalahnya, komunikasi tersebut membutuhkan sinyal.
Dan sinyal bisa diganggu.
Electronic warfare atau peperangan elektronik kemudian menjadi salah satu senjata utama dalam perang Rusia-Ukraina.
Sistem jammer bisa membanjiri frekuensi tertentu dengan gangguan sehingga operator kehilangan video atau kontrol terhadap drone.
Drone yang beberapa detik sebelumnya terbang menuju kendaraan lapis baja tiba-tiba kehilangan arah.
Selesai.
Setidaknya begitulah teorinya.
Dalam praktiknya, Rusia dan Ukraina terus mencari cara untuk mengakali satu sama lain.
Begitu jammer muncul, frekuensi baru digunakan.
Ketika frekuensi ikut dijamming, muncul frequency hopping.
Ketika komunikasi radio menjadi masalah, drone fiber-optic mulai digunakan.
Sekarang AI membawa perlombaan tersebut ke tahap berikutnya.
AI Membuat Drone Tidak Harus Selalu Mendengar Perintah Operator
Konsepnya sederhana, meskipun teknologinya tidak sesederhana itu.
Drone diberikan kamera dan komputer onboard.
Kemudian AI dilatih mengenali pola visual tertentu.
Dalam beberapa sistem, operator mungkin masih menentukan atau mengunci target pada awalnya. Setelah target terkunci, machine vision mengambil alih fase akhir penerbangan.
Namun sistem yang lebih jauh dapat melakukan navigasi dan pencarian target dengan tingkat otonomi lebih tinggi.
CSIS dalam analisis yang diterbitkan pada April 2026 menyebut Rusia kemungkinan telah mengerahkan sistem nirawak yang sepenuhnya otonom dalam pertempuran dan terus melakukan pengembangan berdasarkan pengalaman di medan perang.
Salah satu sistem yang banyak dibahas adalah V2U.
Analisis teknis terhadap V2U yang berhasil diperoleh Ukraina menunjukkan evolusi yang cukup menarik.
Versi awal yang ditemukan pada Juni dan Juli 2025 masih mempunyai modem LTE. Artinya, sistem tersebut setidaknya masih memiliki kemungkinan komunikasi dengan pihak luar.
Namun V2U yang ditemukan pada Oktober dan November 2025 sudah tidak membawa modem atau sistem komunikasi eksternal.
Tidak ada “tali” digital yang menghubungkannya dengan operator.
Drone harus berpikir sendiri berdasarkan instruksi yang sudah diberikan sebelum penerbangan dan data yang dikumpulkannya melalui sensor.
V2U Bisa Jadi Gambaran Masa Depan Drone AI Rusia
V2U menjadi salah satu contoh paling menarik dari arah perkembangan drone Rusia.
Menurut analisis CSIS, sistem ini menggunakan komputer AI onboard yang memungkinkan drone melakukan pencarian, identifikasi dan pemilihan target menggunakan computer vision.
Sistem yang dianalisis dilaporkan menjalankan neural network YOLOv5.
YOLO merupakan singkatan dari “You Only Look Once”, keluarga model computer vision yang dirancang untuk mendeteksi objek dalam gambar secara cepat.
Dalam konteks sipil, teknologi seperti ini bisa digunakan kamera untuk mendeteksi mobil, manusia atau benda tertentu.
Masukkan teknologi serupa ke dalam drone bersenjata dan kegunaannya berubah drastis.
Kamera memindai lingkungan.
Komputer membaca gambar.
Algoritma mengenali pola.
Drone kemudian bisa menggunakan informasi tersebut dalam proses menentukan arah menuju target.
Analisis terhadap V2U juga menemukan penggunaan Nvidia Jetson Orin yang dipasang pada carrier board Leetop A603 buatan China.
Sebuah komputer berukuran relatif kecil akhirnya menjadi salah satu komponen yang membuat drone jauh lebih mandiri.
Bukan Cuma V2U
Rusia juga mengembangkan beberapa platform lain yang memanfaatkan machine vision.
Pada Mei 2026, intelijen militer Ukraina mempublikasikan informasi mengenai drone loitering munition Rusia bernama Klin.
Salah satu fitur penting Klin adalah penggunaan teknologi machine vision dengan kemampuan automatic target acquisition.
Menariknya, sistem tersebut juga menggunakan komponen Nvidia, yakni modul komputasi Jetson TX2.
Kemunculan beberapa platform berbeda menunjukkan AI bukan lagi sekadar eksperimen tunggal.
Rusia tampaknya sedang mencoba memasukkan kemampuan machine vision ke berbagai keluarga drone.
Dan perang Ukraina menyediakan laboratorium terbesar untuk mengujinya.
Pom Bensin di Zaporizhzhia Jadi Salah Satu Uji Nyata
Salah satu kejadian yang membuat teknologi ini kembali ramai dibicarakan terjadi pada 6 Juli 2026.
Sebuah drone Rusia tipe Molniya menghantam sebuah pom bensin di Zaporizhzhia.
Yang membuat serangan tersebut berbeda bukan sekadar targetnya.
Para ahli Ukraina mengatakan puing drone menunjukkan sistem tersebut membawa komputer Nvidia Jetson Orin dan menggunakan computer vision untuk mengarahkan serangan secara otonom.
Kalau temuan tersebut benar-benar menggambarkan cara drone beroperasi saat serangan, manusia tidak perlu mempertahankan koneksi kontrol sampai detik terakhir.
Drone bisa menyelesaikan sebagian proses tersebut sendiri.
Dan di medan perang yang penuh electronic warfare, kemampuan itu sangat berharga.
Bayangkan operator mengirim drone ke sebuah wilayah.
Setelah berada di sana, komunikasi hilang.
Drone konvensional mungkin menjadi tidak efektif.
Drone otonom justru bisa melanjutkan misinya.
Inilah alasan AI perlahan menjadi jawaban terhadap salah satu tantangan terbesar drone: jamming.
Electronic Warfare Bisa Kehilangan Sebagian Keampuhannya
Selama perang Ukraina, electronic warfare berkembang menjadi permainan kucing-kucingan.
Rusia membuat drone.
Ukraina menjamming.
Rusia mengganti frekuensi.
Ukraina memperbarui jammer.
Rusia kemudian memakai fiber optic.
Ukraina mengembangkan interceptor.
Siklusnya terus berulang.
Pada Agustus 2026, ISW bahkan melaporkan Rusia menggunakan drone FPV dengan teknologi frequency hopping and spread spectrum atau FHSS. Teknologi tersebut memungkinkan sistem berganti frekuensi dengan cepat sehingga semakin sulit diganggu electronic warfare Ukraina.
AI menawarkan pendekatan berbeda.
Bukan membuat sinyal semakin sulit dijamming.
Tetapi mengurangi kebutuhan terhadap sinyal itu sendiri.
Kalau drone tidak membutuhkan komunikasi eksternal selama fase tertentu, jammer tidak punya link kontrol yang bisa diputus.
Menurut CSIS, hilangnya modem LTE pada V2U versi lebih baru membuat electronic warfare konvensional menjadi jauh kurang efektif terhadap sistem kontrol dan navigasinya karena memang tidak ada sinyal komunikasi yang harus dijamming.
Drone tersebut menggunakan sensor onboard, termasuk laser altimeter dan navigasi berbasis medan.
Dengan kata lain, Ukraina menghadapi masalah baru.
Bagaimana cara menjamming sesuatu yang tidak sedang berbicara dengan siapa pun?
Sebelum AI, Rusia Sudah Punya Drone Fiber-Optic yang Sulit Dijamming
AI sebenarnya bukan satu-satunya solusi Rusia terhadap peperangan elektronik.
Ada teknologi yang jauh lebih sederhana tetapi sangat efektif: kabel.
Drone fiber-optic dikendalikan menggunakan kabel serat optik tipis yang terus terurai selama drone terbang.
Kedengarannya jadul dibandingkan AI.
Tetapi justru kesederhanaannya yang membuat teknologi ini efektif.
Tidak ada link radio utama yang bisa dijamming seperti drone FPV biasa.
Reuters pada Juli 2026 melaporkan Rusia menggunakan drone kecil yang dikendalikan melalui fiber optic untuk melewati pertahanan Ukraina dan menyerang gardu listrik tegangan tinggi di wilayah Sumy. Serangan tersebut diverifikasi melalui analisis sumber terbuka dan dikonfirmasi Reuters.
Jadi Rusia sekarang mempunyai beberapa jalan menuju tujuan yang sama.
Fiber optic membuat koneksi operator lebih tahan terhadap jamming.
Frequency hopping membuat komunikasi radio lebih sulit diganggu.
AI memungkinkan drone mengurangi ketergantungan kepada operator.
Tiga teknologi berbeda.
Satu tujuan: membuat drone semakin sulit dihentikan.
Rusia Juga Mengirim Drone dalam Jumlah Besar
Teknologi canggih akan semakin mengkhawatirkan kalau dipadukan dengan skala.
Dan skala serangan drone Rusia memang terus menjadi persoalan besar bagi Ukraina.
Pada malam 27 menuju 28 Agustus 2026, Rusia meluncurkan 164 drone Shahed, Gerbera dan Parodiya ke Ukraina.
Yang cukup mengejutkan, sekitar separuh Shahed yang digunakan dilaporkan merupakan varian bertenaga jet.
Pertahanan udara Ukraina mengklaim berhasil mencegat 137 drone. Namun target udara tetap menghantam 16 lokasi dan puing jatuh di empat lokasi lainnya. Serangan mengenai berbagai infrastruktur sipil, industri, komersial dan energi di sejumlah wilayah Ukraina.
Beberapa minggu sebelumnya pola serupa juga terlihat.
Pada serangan malam 14–15 Agustus, Rusia meluncurkan 152 drone dari berbagai jenis. Ukraina mengatakan berhasil menjatuhkan 124 drone dan tiga loitering munition Banderol, tetapi sejumlah serangan tetap mencapai target.
Jadi ancaman yang dihadapi Ukraina bukan hanya “drone pintar”.
Ada juga drone banyak.
Kombinasi keduanya jauh lebih berbahaya.
Shahed Juga Terus Berevolusi
Nama Shahed mungkin menjadi drone Rusia yang paling dikenal publik sejak perang dimulai.
Drone rancangan Iran yang kemudian diproduksi dan dimodifikasi Rusia itu awalnya terkenal karena konsepnya sederhana.
Murah dibandingkan rudal.
Terbang jauh.
Membawa bahan peledak.
Diluncurkan dalam jumlah besar.
Tujuannya bukan selalu membuat setiap drone berhasil menembus pertahanan.
Kalau puluhan atau ratusan drone dikirim bersamaan, sistem pertahanan udara dipaksa bekerja keras.
Sebagian drone bisa menjadi decoy.
Sebagian lainnya membawa hulu ledak.
Dan sekarang Rusia terus mengubah karakteristiknya.
Pada Agustus 2026, laporan Ukraina menunjukkan penggunaan Shahed bertenaga jet dalam jumlah semakin besar. ISW menilai Rusia memprioritaskan produksi drone bertenaga jet seperti Geran-4 dan Geran-5 karena Ukraina saat ini belum mempunyai jumlah countermeasure yang cukup untuk mencegat drone berkecepatan lebih tinggi tersebut secara konsisten.
Perang drone pun berubah dari sekadar siapa yang punya drone paling banyak menjadi siapa yang paling cepat melakukan upgrade.
Kenapa AI Membuat Perang Drone Lebih Menakutkan?
Ada satu perbedaan mendasar antara drone yang dikendalikan manusia dan drone yang bisa memilih target sendiri.
Pada sistem tradisional, manusia masih menjadi filter terakhir.
Operator melihat gambar.
Operator mengambil keputusan.
Operator mengarahkan drone.
Ketika AI diberi semakin banyak kewenangan, rantai tersebut berubah.
Mesin melihat.
Algoritma mengklasifikasikan.
Algoritma memutuskan apakah objek cocok dengan kriteria yang telah diprogram.
Kemudian mesin menyerang.
Masalahnya, AI bisa salah.
Sebuah truk militer dan kendaraan sipil bisa mempunyai bentuk visual yang mirip dalam kondisi tertentu.
Bangunan bisa berubah bentuk setelah terkena serangan.
Asap, hujan, bayangan, pepohonan, puing dan kondisi cahaya dapat memengaruhi computer vision.
Sistem AI tidak “memahami” perang seperti manusia memahami situasi.
Ia membaca pola berdasarkan data dan model yang dimilikinya.
ISW memperingatkan penggunaan sistem serang sepenuhnya otonom tanpa pengawasan manusia untuk memverifikasi target dapat meningkatkan risiko korban sipil dan kesalahan lain.
Di sinilah diskusi mengenai lethal autonomous weapons menjadi jauh lebih nyata.
Dulu perdebatannya terdengar futuristik.
Sekarang puing komputernya sudah ditemukan di Ukraina.
Komputer Sipil Berubah Menjadi Otak Senjata
Ada satu ironi besar dari drone AI Rusia.
Sebagian teknologi yang membuatnya mungkin bukan berasal dari industri senjata.
Nvidia Jetson Orin merupakan komputer kecil yang dirancang untuk kebutuhan edge AI dan robotika.
Produk seperti ini bisa digunakan dalam robot industri, kamera pintar dan berbagai aplikasi machine vision.
Namun teknologi dual-use mempunyai karakter unik.
Barang yang membantu robot mengenali benda di gudang juga secara teknis dapat membantu drone mengenali benda di medan perang.
Temuan komponen semacam itu kembali memperlihatkan betapa sulitnya memisahkan teknologi sipil dan militer dalam era AI.
CSIS mencatat bahwa meski Rusia menghadapi sanksi Barat, analisis terhadap sistem V2U menunjukkan keberadaan komponen elektronik Barat dan China, termasuk modul Nvidia Jetson Orin.
Ini membuka pertanyaan lain.
Bagaimana komponen tersebut sampai ke Rusia?
Melalui distributor?
Pasar sekunder?
Negara ketiga?
Rantai pasok yang kompleks?
Pertanyaan itu sekarang menjadi bagian penting dari perang teknologi antara Rusia, Ukraina dan negara-negara Barat.
Perang Ukraina Berubah Jadi Laboratorium Drone Dunia
Kalau melihat perang Rusia-Ukraina dari 2022 sampai 2026, perubahan teknologi drone berlangsung sangat cepat.
Pada awal perang, drone besar seperti Bayraktar TB2 mendapat sorotan besar.
Kemudian muncul drone komersial kecil untuk pengintaian.
Setelah itu FPV murah berubah menjadi senjata penghancur kendaraan.
Lalu Shahed mulai digunakan dalam serangan jarak jauh.
Electronic warfare berkembang.
Drone fiber-optic muncul.
Interceptor drone dikembangkan.
Frequency hopping digunakan.
Sekarang AI dan machine vision semakin masuk ke medan tempur.
Satu inovasi bisa menjadi efektif hanya beberapa bulan sebelum lawan menemukan penangkalnya.
Karena itu teknologi yang sedang diuji Rusia hari ini kemungkinan akan mendorong Ukraina mengembangkan countermeasure baru besok.
Dan setelah Ukraina menemukan solusi, Rusia akan mencari cara mengakalinya lagi.
Perang modern berubah menjadi siklus update.
Bedanya dengan aplikasi smartphone, update ini menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.
Ukraina Juga Mengembangkan AI, Bukan Cuma Rusia
Penting juga untuk tidak melihat cerita ini seolah-olah hanya Rusia yang mengembangkan teknologi drone berbasis AI.
Ukraina melakukan hal serupa.
Machine vision dan AI targeting sudah digunakan dan dikembangkan oleh kedua pihak setidaknya sejak 2025. Industri pertahanan Ukraina juga aktif mengembangkan sistem navigasi, penguncian target, drone interceptor dan kemampuan autonomous flight.
Perang ini adalah perlombaan dua arah.
Ketika Rusia mengembangkan drone yang lebih tahan terhadap electronic warfare, Ukraina mencari sistem interceptor baru.
Ketika Rusia menggunakan fiber optic, Ukraina mengembangkan metode mendeteksi dan menghancurkannya.
Ketika AI mulai mengambil alih terminal guidance, kebutuhan terhadap teknologi counter-AI ikut meningkat.
Analisis industri pertahanan pada 2026 menggambarkan AI targeting sebagai salah satu medan perlombaan teknologi berikutnya dalam perang tersebut.
Jadi judul “drone AI Rusia meneror Ukraina” menggambarkan ancaman yang sedang berkembang, tetapi teknologi AI militer sendiri bukan monopoli Rusia.
Ancaman Berikutnya Bisa Jadi Drone yang Benar-Benar Berburu Sendiri
Saat ini penggunaan drone Rusia yang sepenuhnya otonom masih digambarkan sebagai deployment terbatas.
Ini detail yang penting.
Jangan membayangkan seluruh ratusan Shahed yang terbang menuju Ukraina setiap malam sudah berubah menjadi robot pemburu AI.
Belum ada bukti untuk menyimpulkan sejauh itu.
Yang sedang terlihat adalah transisi.
Beberapa sistem menggunakan machine vision untuk terminal guidance.
Beberapa platform diuji dengan automatic target recognition.
V2U menunjukkan kemampuan otonomi yang semakin jauh.
Dan kasus Molniya di Zaporizhzhia memberikan indikasi bahwa sistem self-targeting sudah diuji dalam serangan nyata.
Namun perkembangan teknologi biasanya tidak berhenti setelah berhasil dalam satu eksperimen.
Kalau sistem terbukti efektif, produksi bisa ditingkatkan.
Kalau terlalu mahal, komponennya dibuat lebih murah.
Kalau AI sering salah, model diperbaiki.
Kalau drone mudah ditembak, jalur penerbangannya diubah.
Begitulah perang drone Ukraina berkembang selama beberapa tahun terakhir.
Ketika Drone Tak Lagi Butuh Pilot, Perang Masuk Babak Baru
Mungkin kita belum sampai pada dunia seperti film Terminator ketika robot sepenuhnya menentukan perang.
Tetapi garis menuju sana mulai terlihat.
Puing drone Rusia di Ukraina sekarang bisa membawa komputer yang mampu menjalankan AI.
Machine vision bisa membantu drone mengenali objek.
Sistem navigasi onboard memungkinkan penerbangan tanpa GPS dalam kondisi tertentu.
Dan pada beberapa konfigurasi eksperimental, komunikasi dengan operator bahkan tidak lagi menjadi bagian penting dari proses serangan.
Bagi Rusia, keuntungan militernya jelas.
Drone menjadi lebih tahan terhadap electronic warfare dan kebutuhan terhadap operator selama fase akhir serangan dapat dikurangi.
Bagi Ukraina, itu menjadi mimpi buruk baru.
Sistem pertahanan tidak cukup hanya mengganggu frekuensi.
Drone harus ditemukan dan dihancurkan secara fisik, dikelabui sensornya atau dikalahkan menggunakan generasi countermeasure berikutnya.
Dan bagi dunia, perkembangan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada perang Rusia-Ukraina.
Jika drone murah dengan komputer AI komersial sudah mampu melakukan sebagian proses pencarian dan pemilihan target sendiri pada 2026, bagaimana bentuk perang lima atau sepuluh tahun mendatang?
Sebab teknologi seperti ini hampir pasti tidak akan berhenti di Ukraina.
Pengetahuan menyebar.
Komponen semakin murah.
Model AI semakin ringan.
Komputer semakin cepat.
Dan perang Ukraina sedang menunjukkan kepada dunia bahwa untuk membuat senjata yang jauh lebih otonom, sebuah negara tidak selalu membutuhkan supercomputer seukuran ruangan.
Kadang cukup kamera, pesawat tanpa awak murah, komputer kecil yang muat di telapak tangan dan algoritma yang sudah diajarkan tentang apa yang harus dicari.
Dulu suara drone membuat orang takut karena seseorang sedang mengendalikannya dari kejauhan.
Generasi berikutnya mungkin jauh lebih menyeramkan.
Sebab ketika dengungan itu terdengar di atas kepala, bisa jadi tidak ada manusia di ujung sinyal yang sedang memegang joystick.
Mesinnya sudah tahu ke mana ia ingin pergi.
Referensi
The New York Times – “Some of Russia’s A.I. Drones Are Powered by Nvidia Microcomputers, Ukrainian Officials Say”, 24 Agustus 2026. Laporan mengenai temuan Nvidia Jetson Orin pada drone otonom Rusia yang diuji di Zaporizhzhia.
https://www.nytimes.com/2026/08/24/world/europe/ukraine-war-nvidia-ai-autonomous-drones.html
Institute for the Study of War / Critical Threats – “Russian Offensive Campaign Assessment, August 25, 2026”, 25 Agustus 2026. Membahas deployment terbatas drone serang Rusia yang sepenuhnya otonom serta serangan Molniya di Zaporizhzhia.
https://www.criticalthreats.org/analysis/russian-offensive-campaign-assessment-august-25-2026
Institute for the Study of War – “Russian Offensive Campaign Assessment, August 28, 2026”, 28 Agustus 2026. Memuat data serangan 164 drone Rusia terhadap Ukraina dan peningkatan penggunaan Shahed bertenaga jet.
https://understandingwar.org/research/russia-ukraine/russian-offensive-campaign-assessment-august-28-2026/
CSIS – “How Russia Is Building a Sovereign Drone Ecosystem for AI-Driven Autonomy”, April 2026. Analisis mengenai V2U, AI targeting, computer vision, YOLOv5, Nvidia Jetson Orin dan perkembangan ekosistem drone otonom Rusia.
https://www.csis.org/analysis/how-russia-building-sovereign-drone-ecosystem-ai-driven-autonomy
Reuters – “Russia evades Ukraine electrical substation defences with small, unjammable drones”, 10 Juli 2026. Membahas penggunaan drone fiber-optic Rusia untuk menyerang infrastruktur listrik Ukraina di Sumy.
https://www.reuters.com/
Ukrainska Pravda – “Russian Molniya drone attacks Ukrainian facility without control antenna”, 1 Juli 2026. Membahas perkembangan drone Molniya dan pengujian sistem autonomous target selection Rusia.
https://www.pravda.com.ua/eng/news/2026/07/01/8041920/
ISW – “Russian Offensive Campaign Assessment, August 14, 2026”, 14 Agustus 2026. Membahas perkembangan teknologi drone, frequency hopping dan perlombaan Rusia-Ukraina menghadapi electronic warfare.
https://understandingwar.org/research/russia-ukraine/russian-offensive-campaign-assessment-august-14-2026/